Pendampingan dan Pembinaan dalam rangka Penguatan Kapasitas Pembudidaya Ikan di Desa Beltubur dan Jorang, Kecamatan Aru Selatan Timur.
Bidang Pengelolaan Pembudidayaan Ikan, Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Aru melakukan kegiatan pendampingan dan pembinaan dalam rangka penguatan kapasitas pembudidaya rumput laut di Desa Beltubur dan Jorang, Kecamatan Aru Selatan Timur. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan bantuan paket budidaya yang diterima, dikelola dengan baik oleh kelompok budidaya di Desa Beltubur dan Jorang dan dapat mengidentifikasi persoalan-persoalan teknis di lapangan yang menghambat kegiatan budidaya.
Desa Beltubur

Desa Beltubur secara administrasi masuk dalam Kecamatan Aru Selatan Timur. Secara geografis Desa Beltubur terletak pada titik koordinat 06° 46′ 07,8″ LS dan 134° 22′ 30,1″ BT. Jumlah penduduk Desa Beltubur yang terdata pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kepulauan Aru berjumlah 721 jiwa. Komoditi perikanan yang di budidayakan di Desa Beltubur adalah rumput laut (Eucheuma cottonii) dan teripang pasir (Holothuria scabra). Selain melakukan kegiatan budidaya, masyarakat Desa Beltubur juga melakukan penangkapan ikan dan pengolahan ikan asin Balobo (Hyporhamphus quoyi). Ikan asin Balobo yang dijual di dalam desa dan di Kota Dobo, dengan harga jual 65.000,-/kg.
Sasaran kegiatan pendampingan dan pembinaan dalam rangka penguatan kapasitas pembudidaya ikan di Desa Beltubur adalah kelompok budidaya Beltubur 01 dan juga masyarakat desa yang bekerja sebagai pembudidaya rumput laut dan teripang yang tidak memperoleh bantuan dan para pengolah ikan asin Balobo (Hyporhamphus quoyi). Ada beberapa penyampaian oleh perwakilan kelompok budidaya Beltubur 01 tersebut yaitu: sarana dan prasarana paket budidaya polikultur (teripang dan rumput laut) mengalami kerusakan parah dan tidak dapat dipergunakan kembali, akibat kebakaran yang terjadi. Selain itu pada musim timur terjadi hempasan gelombang dan curah hujan yang tinggi yang mengakibatkan banjir dan membuat tambak-tambak pembudidaya teripang menjadi rusak dan teripang menjadi mati. Hal seperti ini yang dialami oleh Ibu Batseba Melwair yang sudah menebar sekitar ± 2000 benih teripang ke dalam tambak miliknya tetapi harus menerima bencana alam tersebut. Selain bencana alam tersebut, persoalaan teknis budidaya lainnya juga dikeluhkan oleh pembudidaya lain yaitu teripang mereka yang sering hilang dari tambak dan teripang seperti terkena penyakit dan gampang mati.
Desa Jorang

Secara geografis, Desa Jorang terletak pada titik koordinat 06° 42′ 58,7″ LS dan 134° 25′ 22,1″ BT. Sasaran kegiatan pendampingan dan pembinaan dalam rangka penguatan kapasitas pembudidaya di Desa Jorang adalah 5 kelompok pembudidaya yang terdata sebagai penerima paket budidaya kepiting dan rumput laut tahun 2023 dan juga para pembudidaya lainnya yang ada di Desa Jorang. Tim kegiatan berinisiatif untuk berkunjung ke rumah masing-masing kelompok penerima bantuan budidaya karena sulitnya mengumpulkan mereka di satu tempat.
Rumah yang pertama adalah rumah bapak Domingus Djilfufin selaku ketua kelompok Budidaya Jorang 01. Beliau menyampaikan bahwa 1 unit sarana budidaya kepiting diterima di bulan september 2023. Beliau mengaku pada saat pertama kali melakukan budidaya kepiting bakau, kepiting tersebut mengalami kematian akibat panas. Pemberian pakan dengan mengunakan ikan rucah dan siput seminggu sekali. Beliau sempat bertanya kepada tim tentang ciri-ciri kepiting sakit, dan mengapa cangkang kepiting agak lembek dan tidak keras. Berdasarkan penyampaian tersebut tim memberikan pengarahan terkait dengan teknik budidaya kepiting bakau (Scylla serrata).
Rumah kedua yang tim datangi adalah rumah bapak Sanja Djilfufin. Beliau merupakan ketua dari kelompok budidaya Empat Saudara. Adapun beberapa hal yang beliau sampaikan adalah kelompoknya menerima 1 unit sarana budidaya rumput laut di tahun 2023 tetapi kendaraannya berupa kedo-kedo masih tertahan di Dusun fatujuring akibat cuaca. Beliau mulai melakukan budidaya rumput laut (Eucheuma cottoni) dari tahun 2017 dengan memasang sekitar 15 tali ris, dengan 15 tali ris tersebut bisa mendapatkan sekitar 50 s/d 100 kg rumput laut kering. Adapun persoalan yang beliau dan kelompoknya hadapi adalah serangan hama dan penyakit pada rumput laut, kekurangan bibit rumput laut yang unggul dan belum memahami waktu pengambilan bibit, dan panen yang baik.
Rumah ketiga yang didatangi oleh tim adalah rumah ibu Helena Sirloy. Beliau merupakan bendahara dari kelompok budidaya Jorang 02 yang menerima 1 unit sarana budidaya kepiting. Beliau menyampaikan bahwa tempat budidaya kepiting bakau terletak di pulau seberang untuk menghindari hempasan gelombang dan keramba dijadikan sebagai wadah pembasaran kepiting setelah ditangkap dan belum mencapai berat yang ideal untuk dijual. Biasanya beliau dan kelompoknya dapat menangkap sekitar 6 kepiting bakau/hari. Harga jual untuk kepiting di Desa Jorang bisa mencapai Rp. 320.000/kg.
Rumah terakhir yang tim datangi adalah rumah bapak Sudin. Beliau merupakan bagian dari kelompok budidaya ikan di Desa Jorang penerima Bantuan 1 unit keramba jaring Apung (aquatec) tahun 2024. Adapun yang disampaikan oleh beliau adalah keramba jaring apung tersebut belum difungsikan karena masih terkendala gelombang besar di lokasi KJA tersebut.
